Glitter Words
Tampilkan postingan dengan label Agronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agronomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

BOTANI KELAPA SAWIT


BOTANI KELAPA SAWIT

Asal dan Penyebaran
-          Daerah asal: Afrika (African Oil Palm)
(Jenis yang dari Amerika Latin dinamakan Elaeis melanococa)
-          Dibawa ke Indonesia (4 biji) tahun 1848 dari Pulau Mauritius, ditanam di Kebun Raya Bogor, berumur 135 tahun.
-          Tahun 1876, Sir Joseph Hooker menanam 700 bibit di Labuhan Deli, Sumatera Utara.
-          Tahun 1911: Schadt (Jerman) membangun perkebunan di Tanah Ulu, Sumut; Hallet (Belgia) membangun perkebunan di Asahan Sumut dan S. Siput Aceh.


Taksonomi
Secara lengkap klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut :
Divisi               :  Tracheophyta
Sub Divisi       :  Pteropsida
Kelas               :  Angiospermae
Sub kelas         :  Monocotyledoneae
Ordo                :  Cocoideae
Family             :  Palmae (Aracaceae)
Sub Family      :  Cocodeae
Genus              :   Elaeis
Species            :  Elaeis guineensis Jacq.
Menurut Hanry (1945), Elaeis berasal dari kata elaion, artinya minyak dalam bahasa Yunani, guineensis dari kata Guinea nama negara di pantai barat Afrika dan Jacq dari kata Jacquin nama botanist Amerika.
Kerabat:
     + Corozo oleifera/Elaeis melanococa : KS Amerika Latin
     Bisa disilang dengan E. guineensis.     
Akar
-          Sistim perakaran serabut, membentuk anyaman tebal.
-          Terdiri atas:
  1. Akar primer: jumlah pada tanaman dewasa s.d. 10000 buah
                           d = 4 – 10 mm, p = mencapai 15 – 20 m
                           sebagian besar tumbuh horizontal pada kedalaman 20 – 60 cm
  1. Akar sekunder:   d = 2 – 4 mm, p =≈ 150 cm
                           Mengarah ke atas permukaan tanah/vertikal
  1. Akar tertsier: d = 1 – 2 mm, p =≈ 10 - 15 cm, horizontal
  2. Akar kuartener: d = 0.5 mm, p =≈ 2 cm, dekat permukaan tanah
-          Akar kuartener bersama akar tersier membentuk lapisan anyaman tebal pada kedalaman ± 10 cm.

Batang
- Bulat/silinder, tidak bercabang, awalnya tertutup pelepah daun (4 th) jika dipangkas/ditunas terbentuk kaki daun berbentuk spiral. Sampai dengan umur 12 tahun batang masih tertutup oleh sisa pelepah yang ditunas, sehingga memberi kesan lebih besar.
- Ukuran batang bervariasi antara 30 cm – 60 cm tergantung kondisi lingkungan.
- Bertambah tinggi selama hidup, umur ekonomi 25 – 30 th = 10 – 11 m hingga 15 – 18 m, namun demikian kelapa sawit liar dapat mencapai 30 m tingginya.
- Batang antara lain berfungsi sebagai tempat penimbunan nutrisi tanaman kelapa sawit tersebut.

Daun
- Jumlah sekitar 40 – 56 pelepah (daun parapinate/majemuk ) yang mengandung 100 – 160 pasang anak daun (atau 250 – 400 helai anak daun); daun juvenil 40 – 50 daun.
- Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat.  Pada tanah yang subur dan lengas tanah optimal, kuncup cepat membuka sehingga lebih cepat dan efektif mejalankan fungsinya sebagai tempat photosintesis.
- Tersusun spiral pada batang. Tempat pelepah tumbuh pada batang, tersusun menurut spiral dimana pelepah satu dengan lainnya terdapat susunan yang teratur yang dinamakan phylotaxis.
- Laju pembentukan  ± 2 daun/bulan. Tanaman kelapa sawit yang tumbuh normal jumlah pelepahnya bervariasi antara 40 – 60 buah.  Jumlah daun yang terbentuk kurang lebih 20 – 24 pelepah per tahun.
- Umur fungsional ± 2 th sejak membuka ; sejak inisiasi sampai mati ± 4 th. (Sejak terbentuk primordia sampai dengan spear (pelepah yang belum membuka) membutuhkan waktu 2 tahun, sampai dengan daun gugur secara alami kira-kira 5 – 6 tahun).
- Tangkai/pelepah berduri, panjang 5 – 7 m (atau 7 – 9 m).
-          ILD/LAI : - kriteria penilaian kondisi kebun
                       - berhubungan dengan PBK (Produksi bahan kering) ILD optimum untuk
                         PBK belum tentu sama dengan ILD optimum untuk YIELD
      Sampai ILD = 12, grafik PBK masih naik, ILD dengan YIELD optimum 6 - 8
Bunga
-          Monoecius (berumah satu), jarang hermaphrodit
-          Infloresence berbentuk mayang (spadix)
-          Inflor dibentuk pada ketiak daun segera setelah diferensiasi pucuk batang
-          Jenis bunga jantan dan betina ditentukan 9 bulan setelah inisiasi, ± 24 bln inflor menjadi bunga
-          Bunga betina : ukuran besar, membuka dalam 3 hari, siap dibuahi 3-4 hari
Bunga jantan : ukuran kecil memanjang, menyerbuk dalam 5 hari
-          Umumnya penyerbukan silang
Kelapa sawit mulai berbunga pada umur sekitar 2 tahun, tanaman ini termasuk berumah satu, artinya pada satu tanaman terdapat bunga jantan dan betina. Namun sering dijumpai pula bunga hermaprodit.  Sebelum bunga mekar, masih diselubungi seludang, sudah dapat dibedakan antara bunga jantan dan bunga betina.  Bunga betina bertudung lebih bulat dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan bunga jantan. Seludang bunga pecah 15-30 hari sebelum reseptif (anthesis).
Meskipun dalam satu tanaman terdapat bunga betina dan bunga jantan namun muncul dan mekarnya tidak bersamaan, praktis tanaman kelapa sawit melaksanakan penyerbukan secara  silang (cross polinated). Secara alami, penyerbukan dilakukan oleh serangga (enthomophili, terutama oleh Elaedobius camerunicus) dan angin (anemophili).
Bunga betina yang sudah mekar, dan dalam kondisi reseptif (masa subur) berlangsung antara 36 – 48 jam.
Perkembangan bunga betina terlihat dari perubahan warnanya.  Pada hari pertama (sesudah mekar) berwarna putih, sedang pada hari kedua berwarna kuning gading, hari ketiga jingga dan hari keempat menjadi merah kehitam-hitaman.  Selama periode tersebut bunga berbau harum dan mengeluarkan lendir yang dimaksud untuk menarik serangga penyerbuk.
Saat terbentuk primordia bunga sampai dengan penyerbukan membutuhkan waktu 33 bulan, sejak selesai penyerbukan sampai dengan buah masak membutuhkan waktu 5 – 6 bulan.
Seks Rasio
            Seks rasio ialah angka perbandingan jumlah bunga betina dibagi total jumlah bunga.  Makin tinggi angka rasio artinya jumlah bunga betina makin banyak. Seks rasio dipengaruhi oleh umur tanaman: pada tanaman menghasilkan yang masih muda, pada umumnya angka seks rasionya tinggi.
Faktor luar yang mempengaruhi terhadap seks rasio :
-          Kondisi tajuk tanaman kelapa sawit
Kondisi tajuk yang lebat akan memperbesar seks rasio, gangguan terhadap kondisi tajuk yang menyebabkan leaf area indeks (LAI) turun, misalnya : over pruning (pangkasan berat), serangan hama, akan menurunkan angka  seks rasio.
-          Intensitas cahaya
Cahaya matahari yang berkurang akan menurunkan angka seks rasio.
-          Status hara daun
Kemarau panjang akan mengurangi penyerapan hara tanah yang menyebabkan status nutrisi di dalam tanaman berada di bawah normal, hal ini menyebabkan angka seks rasio menurun.
Seks Diferensiasi
            Pada saat terbentuk primordia bunga, jaringan yang terbentuk masih bersifat jaringan meristematis belum dapat ditentukan apakah bakal bunga betina atau bunga jantan.  Pada tanaman dewasa diferensiasi seks terjadi selama periode 15 bulan, yaitu bulan ke-9 sampai dengan bln ke-24 setelah primordia bunga atau bulan ke-24 sampai dengan 29 sebelum anthesis (pada TM muda bulan ke- 16 sampai dengan 6 bulan sebelum anthesis). (Faktor luar yang berpengaruh lihat seks rasio).
Aborsi bunga
            Aborsi bunga terjadi pada periode dimana pertumbuhan bunga sedang menunjukkan akselerasi yang tinggi, atau kira-kira selama periode 4 – 6 bulan sebelum anthesis.  Pengamatan visual menunjukkan periode aborsi terjadi pada bunga berukuran 5 cm – 11 cm.
Diagram di bawah dapat membantu pengertian di atas.
Tanaman dewasa


     Primordia                        sex determinasi                   aborsi                 anthesis
     bunga  
         0                     9                                             24                                     33  bulan
Tinggi rendahnya aborsi bunga berhubungan dengan kondisi lengas tanah.  Terbatasnya penyerapan air oleh akar akan mempertinggi aborsi bunga.

Buah
-          Buah batu (drupe), tidak bertangkai
-          Terdiri : - Perikarp : - eksokarp atau epicarp: kuliat buah, licin dan keras
                                       - mesokarp, daging buah: terdiri atas susunan serabut dan mengandung minyak  → minyak sawit (CPO)
                   - Endokarp : - cangkang, tempurung: berwarna hitam dan keras
                                        - biji/inti/kernel/endosperm: putih, mengandung minyak →minyak inti sawit (KPO)
                   - Lembaga (embrio)
-   Masak 4,5 -  6 bulan setelah penyerbukan
    Mentah : hujau/ungu (anthocyanin) → jingga/merah kekuningan  (karoten)             
-          Bobot tandan berkisar 3 – 50 kg
-          Jumlah biji setiap tandan bervariasi menurut umur tanamannya dan ukuran tandannya.  Pada tandan yang besar kira-kira tersusun dari 1.600 biji/buah.
      -  Ukuran dan bentuk buah/brondolan beragam, tergantung posisi dalam tandan, berat per biji antara 20 – 30 gram.
-          Jenis berdasarkan :
       Ketebalan kulit biji : - Pisifera           : tanpa kulit biji
(% terhadap buah: daging = 60%, inti = 3 – 15%, cangkang = 3 – 20%)
                        - Dura              : tebal 2 – 8 mm
                  (% terhadap buah: daging = 20 – 65%, inti = 4 – 20%, cangkang = 20 – 50%)
                                        - Tenera = DxP, tebal 0.5 – 0.8 mm
       Warna buah  : 
  - Nigrescens  :  Buah muda berwarna ungu sampai hitam, setelah masak
                           berwarna merah jingga kehitaman (tanaman komersil)
 - Virescens     :  Buah muda berwarna hijau, buah yang telah masak
                           berwarna jingga kemerahan.
 - Albescens     :  Buah muda berwarna keputihan, setelah masak berwarna
                           Kekuningan.
- Proporsi dari TBS (Tandan Buah Segar) :
      - Brondolan (60-65%): - perikarp (54%)
                                            - cangkang/shell (32%)
                                            - inti/kernel (14%)
      - Tandan kosong / bench (35-40%)

- Proses pematangan buah dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat.  Cuaca yang kering memperlambat proses pematangan buah.




-   Pemuliaan bertujuan :
- meningkatkan hasdil dan mutu minyak /ha/th
- memperlambat pertambahan tinggi tanaman – umur ekonomi
- ketahanan terhadap hama penyakit, dll
- Hasil minyak/ha/th = Jumlah pohon/ha x jml tandan buah/ha/th x rataan bobot tandan x nisbah buah/tandan x nisbah mesokarp/buah x nisbah minyak/mesokarp

Gambar 3.1. Perakaran kelapa sawit

Gambar 3.2. Batang kelapa sawit


Gambar 3.3. Daun kelapa sawit

Gambar 3.4. Phylotaxis kelapa sawit






Gambar 3.5. Bunga kelapa sawit (Kiri: bunga betina; Kanan: Bunga jantan)

Gambar 3.6. Penampang membujur buah/brondolan kelapa sawit

Gambar 3.7. Penampang membujur buah/brondolan kelapa sawit

Download Filenya disini: DOWNLOAD

Sabtu, 17 Desember 2011

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.)


Ubi jalar
(Ipomoea batatas (L.) Lamb.)



VARIETAS
Terdapat 7 varietas unggul yang dilepas sejak tahun 1990 hingga 2001. Varietas-varietas ini yaitu Sari, Boko, Sukuh, Jago, Cangkuang, Sewu dan Kidal. Varietas lain yaitu Daya, Borobubudur, Prambanan, Mendut dan Kalasan.
SYARAT TUMBUH
Ubi jalar memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan hidup sehingga dapat dibudidayakan pada berbagai jenis lahan, ketinggian tempat, dan tingkat kesuburan tanah yang berbeda. Komoditas ini ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Ubi jalar baik di tanam pada awal hingga pertengahan musim kemarau.
PRODUKTIVITAS
Luas panen ubu jalar di Indonesia sekitar 230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha. Padahal dengan teknologi maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah/ha.
TEKNIK BUDIDAYA
Ubi jalar di tanam di guludan dengan lebar 40 – 60 cm dan tinggi 25- 30 cm. Jarak antar guludan 80-100 cm sedangkan jarak tanam dalam baris sekitar 25-30 cm. Bibit ditanam dari stek pucuk atau tunas semai umbi. Takaran pupuk 100-200 kg urea + 100 kg SP 36 +100 kg KCI + 10 ton pupuk kandang/ha. Pupuk kandang diberikan bersamaan pembuatan guludan. 1/3 dosis urea dan KCI serta seluruh SP 36 diberikan pada saat tanam. Sedangkan sisanya, 2/3 Urea dan KCI diberikan pada saat tanaman berumur 1,5 bulan. Aplikasi pupuk harus ditutup dengan tanah. Ubi jalar dapat dipanen jika umbi sudah tua dan besar. Secara fisik ubi jalar siap dipanen apabila daun dan batang sudah mulai menguning. Di dataran rendah, ubi jalar umumnya dipanen pada umur 3,5 – 5 bulan. Sedangkan di dataran tinggi ubi jalar dapat dipanen pada umur 2 – 8 bulan. Hama utama adalah hama boleng Cylas formicarius, penggerek batang Omphisa anastomasalis serta nematode Meloidogyne sp yang merugikan ubi jalar. Penyakit utama pada ubi jalar adalah jamur stek Fusarium sp. dan kudis Spaceloma batatas. Pengendaliannya adalah dengan melakukan pengendalian OPT secara terpadu yaitu : penggunaan bibit/stek yang sehat, bebas penyakit, penanaman varietas tahan, rotasi tanaman bukan inang, sanitasi dan eradikasi tanaman pada saat panen. Pemberian mulsa jerami dapat mengurangi serangan penyakit, karena mengurangi percikan air hujan dan siraman yang membawa pathogen dari bagian bawah tanaman kebagian atas tanaman, selain itu pengguguran daun stek pada saat tanam, bertujuan untuk mengurangi sumber inokulum.
SENTRA PRODUKSI
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Irian Jaya dan Sumatera Utara.

GANDUM (Triticum aestivum) sebagai Tanaman Pangan


GANDUM
(Triticum aestivum)
Varietas : Dewata, Nias, Selayar
Syarat tumbuh : Ketinggian diatas lahan yang sesuai 800 m dpl. Suhu Optimum 20-25° C. Curah hujan 600 825 mm/tahun. Kelembapan rata-rata 80 90%. Intensitas penyinaran 9-12 jam/hari. Jenis tanah adalah Andosol, Regosol kelabu, Latosol dan Aluvial. Derajat keasaman (pH) tanah berkisar 6-7.
Produktivitas : Dewata (Dataran tinggi ± 2,96 t/ha. Dataran rendah ± 2,04 t/ha), Nias (2,56 ton/ha), Selayar (± 2,95 t/ha)
Teknik Budidaya Kebutuhan benih 100 kg/ha. Tanah diolah sempurna sampai gembur. Sekeliling bedengan dibuatkan drainase. Tanah berdebu dengan pH 6,0 - 8,5, ditanam pada akhir musim hujan (April - Mei). Buat larikan sedalam ± 5 cm. Jarak antara larikan 25 cm. Benih disebar merata dalam larikan dan ditutup dengan tanah. Takaran pupuk : 300 kg urea/ha + 200 kg SP36/ha + 100kg KCl/ha . Pemupukan 2 kali, pertama 7-10 hari setelah tanam (150 kg urea/ha + 200 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha), dan kedua 30-35 hari setelah tanam (150 kg urea/ha).Pupuk diberikan secara larikan ± 10 cm disamping tanaman dan ditutup dengan tanah. Penyiangan pertama pada umur 15 hari setelah tanam. Penyiangan kedua pada umur 28-30 hari setelah tanam dilakukan sebelum pemupukan kedua. Pengendalian ulat tanah dengan pemberian insektisida 20 kg/ha Furadan 3G pada lubang larikan pada saat tanam. Pengendalian Aphids dengan penyemprotan insektisida Decis 2,5 EC. Pengendalian penyakit Scab dengan pemberian Fungisida Thiophanate methyl (Topsin M70 WP). Pemberian air melalui antara bedengan sehingga tanah cukup lembab setiap 3 - 4 minggu. Pemberian air dapat juga dilakukan melalui springkle. Gandum yang siap panen apabila tanaman telah berumur ± 90 untuk dataran rendah, berumur ± 107 hari untuk dataran menengah, dan ± 112 hari untuk untuk dataran tinggi.Ciri-ciri tanaman siap panen biji sudah keras,jika ditekan dengan kuku tidak keluar cairan, batang dan daun mengering berwarna putih keabu-abuan demikian pula kelopak buahnya.
Sentra produksi         : Sulawesi Selatan (Malino), Jawa Timur (Tosari), Jawa Tengah (Salatiga) dan Sumatra Barat (Sukarami).
Daftar Pustaka :
http://agribisnis.web.id/web/diperta-ntb/artikel/gandum.htm

KACANG TANAH ( Arachis hypogeae L.)


KACANG TANAH
( Arachis hypogeae L.)

Syarat tumbuh
·        Iklim : cocok ditanam didataran rendah yang berketinggian dibawah 500 m diatas permukaan laut. lklim yang dibutuhkan tanaman Kacang Tanah adalah bersuhu tinggi antara 25°C – 32°C, sedikit lembab ( rH 65 % – 75 % ), curah hujan 800 mm -1300 mm per tahun, tempat terbuka.

·        Media tanah : Tanah cukup subur, gembur serta bertekstur ringan, Tanah berdrainase dan beraerasi baik, PH antara 6,0 -6,5.
Varietas : Macan, Gajah, Kidang , Banteng, Tapir, Belanduk, Rusa, Anoa, Tupai, Kancil, Jerapah, Kelinci, dan Bison
Teknik Budidaya
·         Benih : Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, ukuran biji seragam, sehat.
·         Cara Tanam :  Penanaman secara baris tunggal dengan tugal atau alur bajak dengan tanam 35-40 cm x 10-15 cm, satu biji/lubang sehingga populasi sekitar 250.000 tanaman per hektar. Kebutuhan benih antara 90 – 100 biji/ha. Penanaman juga dapat dilakukan secara baris ganda (50 cm x 30 cm) x 15 cm, satu biji/lubang.
·         Pemupukan : Menggunakan 60-90 kg Urea/ha, 60-90 kg SP36/ha dan 50 kg KCI/ha. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk kedalam lubang tugal disisi kiri kanan lubang tanam/disebar merata kedalam larikan.
·         Penyiangan : Penyiangan dilakukan 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 40 hari setelah tanam
·         Pengairan : Tidak menghendaki air yang menggenang. Waktu pengairan yang baik adalah pagi atau sore hari dengan cara dileb hingga tanah cukup basah
·         Pemanenan : Sebagian besar daun menguning dan gugur ( rontok ). Tanaman berumur 85 -110 hari tergantung,Varietasnya. -Sebagian besar polongnya ( 80 % ) telah tua. “ Kulit polong cukup keras dan berwarna cokelat kehitam-hitaman. Kulit biji tipis dan mengkilap
·         Hama dan penyakit : Hama utama Wereng kacang tanah (Empoasca fasialin), penggerek daun (Stomopteryx subscevivella), ulat jengkal (Plusia chalcites) dan ulat grayak (Prodenia litura), dapat dikendalikan dengan insektisida endosulfan, klorfirifos, Dursban, Azodrin< Tamaron dan Basudin). Untuk pencegahan, pestisida tersebut dapat diaplikasikan pada umur 25, 35 dan 45 hari.Penyakit utama kacang tanah antara lain layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), bercak daun (leafspot), penyakit karat (Puccinia arachidis).  Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan atau menggunakan fungisida benomil, mankozeb, bitertanol 45, Baycor, Delsane MX 200 dan Daconil). Untuk pencegahan, fungisida tersebut dapat diaplilkasikan pada umur 35, 45 dan 60 hari.
·         Sentra produksi : jawa tengah, jawa timur, Kabupaten Tuban, Bangkalan, Kabupaten Sampang, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Banten, Yogyakarta, Bali, NTT, NTB, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Jumat, 02 Desember 2011

Download Contoh LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR AGRONOMI


Download Contoh LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR AGRONOMI

Klik link ini ya! DOWNLOAD NOW
Download juga Contoh Soal Dasgron: Download now

Komoditas Tanaman Perkebunan


Komoditas Tanaman Perkebunan (Cikabayan)

PENDAHULUAN 
Latar Belakang
            Tanaman perkebunan merupakan salah satu sektor yang menyumbangkan devisa yang cukup besar bagi negara Indonesia. Selain itu sektor perkebunan menjadi komoditi unggulan dan sangat potensial untuk dikembangkan. Oleh sebab itu penting kiranya untuk kita sebagai mahasiswa pertanian untuk mengetahui dan mendalami lebih jauh tentang tanaman yang masuk kedalam sektor perkebunan.

Kamis, 29 September 2011

Penyakit dan Hama pada Tanaman Padi

Penyakit pada Tanaman Padi
a) Bercak daun coklat

Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae). Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP.

b) Blast

Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.

Minggu, 26 Desember 2010

TANAMAN KACANG HIJAU ala Agronomi


Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
            Kacang hijau merupakan tanaman semusim yang berasal dari kelompok Leguminosae yang dapat tumbuh di segala macam tipe tanah. Tanaman kacang hijau memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Divisi               : Spermatophyta
Sub – divisi     : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Rosales
Famili              : Papilionaceae

Genus              : Vigna
Spesies            : Vigna radiata atau Phaseolus radiatus
2.2. Morfologi Tanaman Kacang Hijau
            Tanaman kacang hijau terdiri dari beberapa jenis seperti Walet, Bhakti, murai, perkutut, kenari, sriri dan Merpati. Tanaman ini berbatang tegak, bulat dan berbulu. Batang dan daun biasanya berwarna hijau, selain itu percabangan tanaman ini berasal dari tanaman utama. Jenis daun yang dimiliki kacang hijau adalah trifoliate yaitu daun yang terdiri dari tiga anak daun dengan letak yang berselang-seling. Bunganya berwarna kuning yang muncul pada cabang dan batang, tersusun dalam tandan serta dapat melakukan penyerbukan sendiri.

Selasa, 30 November 2010

Alasan Memilih Menjadi Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura


Alasan Memilih Menjadi Mahasiswa Agronomi dan Hortikultura
          Indonesia adalah negara yang nyatanya sangat kaya. SDA yang dimiliki begitu banyak terhampar dari Sabang sampai Merauke. Sumber daya alam (SDA) yang adapun tidak hanya di samudra atau lautan Indonesia saja yang kaya dengan SDA, tetapa ibu pertiwi atau daratan Indonesiapun memiliki jumlah kekayaan alam yang sangat mengagumkan. Seperti kata orang tua bijak dulu “Indonesia sangat subur, batu, tongkat dan daun ditanampun tumbuh” Oleh sebab itu, Indonesia dikenal dengan sebutan Negara Agraris dan Maritim.

MORE POSTING

TV Indonesia

>>>Kalau Mau Nonton TV, stop/Pause the Gen FM Radio!
Glitter Words

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management